source: kapalaampta.blogspot.com

Oleh: Diwan Masnawi

Sore itu kampung terselubung kabut, hujan baru saja selesai. Angin masih menanamkan dingin pada setiap kulit yang ia sentuh. Dusun Pancoh sore itu berpayung kabut, dan langit yang kesumba perlahan-lahan menggelap. Malam hanya butuh sebentar lagi untuk jatuh di sini.

Kira-kira 20 kilometer jarak dari pusat kota Yogyakarta, menuju ke Dusun Pancoh, yang berada di Desa Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, yang berjarak 15 kilometer dari puncak Merapi itu. Melalui jalan Palagan saya menempuh perjalanan terus menanjak ke utara, dingin sudah mulai terasa, atau mungkin lebih tepat sejuk, hal yang jarang bisa ditemui di pusat kota. Pun, saat itu saya beruntung, karena di hadapan saya, selain bentangan aspal yang memanjang, saya diberikan sajian pemandangan yang sungguh elok, gunung Merapi terpampang indah dan gagah. Mooi Indie.

Memasuki Turi, berpetak-petak kebun salak, beberapa petak sawah, beberapa petak tebu, saya lewati. Hal-hal itulah yang saya saksikan di pinggir jalan, selain rumah-rumah tentunya. Daerah Sleman Utara, atau kecamatan-kecamatan di sekitar lereng gunung Merapi memang bermaskot salak. Salak menjadi komoditas penting, tonggak perekonomian masyarakat sini. Salak pondoh, salak madu, salak gading. Dua yang terakhir adalah inovasi baru. Tetapi salak pondoh masih menjadi pilihan utama para petani di sini, karena salak pondoh lebih produktif ketimbang jenis salak yang lain, dan tidak membutuhkan peremajaan ketika pohonnya sudah tua. Olahan-olahannya pun telah mampu menembus pasar-pasar internasional, seperti kripik salak yang menerima pesanan hingga 1 ton per bulan, dari pasar Amerika Serikat. Negara-negara lainnya seperti, Cina, Kamboja, Selandia Baru, Australia, Korea, Singapura dan Malaysia juga menjadi tujuan ekspor para petani di sini, baik olahan-olahan salak, maupun buah salak segarnya juga.

Hanya lurus mengikuti jalan besar saja dari Palagan, lalu sampailah saya di Dusun Pancoh, sebuah desa ekowisata yang sedang tumbuh dengan cepat. Ekowisata yang dikelola langsung oleh masyarakatnya, bukan oleh kekuatan modal dari luar, bukan jenis wisata yang mengeksploitasi alam berlebihan, ekowisata yang malah mendekatkan anda untuk bersentuhan dengan alam secara lebih intim dan mesra.

Desa Ekowisata Pancoh saat ini, bahkan, masuk ke dalam kategori desa wisata berkembang dengan pendapatan yang cukup tinggi tiap tahunnya, sekitar Rp 800 juta-1 miliar. Pancoh juga termasuk desa wisata yang sudah mandiri dan menjadi pilot project desa wisata di Sleman.

Sebuah kampung yang diselubungi kabut, sore itu, menyimpan kearifan-kearifan, kekayaan budayanya, dan hal-hal itu memanggil saya untuk menuliskannya dalam catatan ini.

Hikayat Nyi Lini dan Ki Sodrono

Saya merasa beruntung ditempatkan KKN di dusun Pancoh ini, sebab mendapatkan keistimewaan untuk menyaksikan bagaimana semangat gotong royong, guyub rukun masyarakat, dan kepercayaan untuk maju dapat membangun sebuah kampung. Selain juga bersyukur karena keindahan alamnya.

Setiap pagi yang cerah Merapi berkupluk awan terlihat jelas, kegagahan bentuk dan warnanya yang dongker itu memberikan pantikan imaji yang indah, bak sebuah lukisan mooi indie berfigurakan langit. Airnya yang jernih dan dingin, memberikan sensasi mandi yang sejati, segar. Udaranya ringan dan renyah. Masyarakatnya begitu ramah tamah, yang mengingatkan saya pada sebuah kalimat yang sering saya dengar “Jika kamu ingin merasakan keramahan orang Jogja, janganlah mencarinya di kota, tapi carilah di pinggir-pinggir Jogja”. Salah satunya di Pancoh, Girikerto, Turi, ini.

Dusun Pancoh yang terdiri dari 2 RW, yaitu RW 11 dan 12 lalu 4 RT ini memiliki luas 496.033 Hektare dan 182 KK yang mengisi seanteronya, dan itu dipimpin oleh pak Purwadi sebagai kepala Dukuh, rumah beliau pula lah yang menjadi pondokan teman-teman perempuan tim KKN saya. Sedang saya dan teman-teman lelaki lainnya tinggal di rumah pak Ngatijan, ketua Pengelola Ekowisata Pancoh.

Bila malam, di sini, orkestra alam menjumpai panggungnya, choir dari jangkrik, ditimpali oleh suara-suara dari serangga lainnya, menjadi musik yang mengantar masyarakat menuju mimpi-mimpinya. Sebab dari hari terang yang digunakan untuk bekerja membuat tidak terlalu banyak aktivitas malam di sini, masyarakat mempunyai waktu luangnya, yang mungkin akan susah ditemui bila bekerja di pabrik-pabrik kota industri dengan jam kerja yang merampas seluruh waktu pekerjanya.

Pada satu malam yang sunyi, saya bersama teman-teman mengunjungi rumah pak Noto Wiyono ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang juga budayawan dusun ini, untuk mendengarkan bincangannya tentang banyak hal terkait dusun Pancoh. Adalah aktivitas yang menyenangkan bercakap-cakap tentang hal-hal yang membuatmu penasaran, dan mendapat gelontoran informasi yang mengenyangkan rasa ingin tahumu. Salah satu bagian dari percakapan yang menarik bagi saya adalah penyelidikan pak Noto tentang sejarah asal usul dusun Pancoh.

Ceritanya bermula dari kesenangan beliau akan sejarah, khususnya sejarah Jawa. Pak Noto bercerita tentang banyak nama tokoh-tokoh sejarah di Jawa yang ikut andil dalam menentukan arah gerak sejarah Jawa, saya kurang terlalu mengerti sebenarnya, nama-nama itu masih terasa asing di telingaku, lalu percakapan menukik ketika saya bertanya “Pak, arti kata Pancoh dalam bahasa Jawa itu apa?”

Pak Noto sambil menyesap rokok dan menghembuskan asapnya yang lalu membumbung di udara memulai ceritanya.

Bermula dari kenduri, semacam perjamuan makan untuk memperingati peristiwa atau meminta berkah dalam kebudayaan Jawa, di Pancoh ketika pembukaan kenduri dan memanjatkan doa-doa sering diawali dengan ingkang cikal bakal dusun Pancoh, al-fatihah, Dari sanalah pak Noto terpantik rasa ingin tahunya, pertanyaan-pertanyaan muncul dalam benaknya, siapa sebenarnya cikal bakal dusun Pancoh ini, bagaimana asal mula dusun Pancoh ini. Lalu ia mulai melakukan penyelidikannya, dengan mendekati orang-orang tua dan orang-orang “pinter” “Karena ini akan menyusuri lorong-lorong panjang yang membentang ratusan tahun ke belakang” katanya.

Di sini, tempat dusun Pancoh berada sekarang, jauh sebelum Mataram berdiri, tempat ini masih ditandai dengan nama alas Mentao. Di alas Mentao ini sudah ada sepasang suami isteri, yaitu Nyi Lini dan Ki Sodrono. Suatu waktu tiba-tiba datang dua pendekar dari Majapahit, mereka satu ilmu dan satu perguruan yang sedang melakukan perjalanan, dan ketika sampai di alas Mentao itu mereka berselisih paham dengan sengit, hingga lalu mereka memutuskan untuk berkelahi. Pertempuran antara kedua pendekar itu sungguh sengit dan sama kuat, mungkin sampai berhari-hari mereka berdua bertempur, hingga akhirnya mereka berdua meninggal, mati bareng. Lalu Nyi Lini dan Ki Sodrono yang menyaksikan dari kejauhan menyadari bahwa mereka berdua telah meninggal, dan dikuburkanlah kedua pendekar itu, oleh mereka. Setelah selesai menguburkan, sepasang suami isteri itu berkata “Kelak suatu saat nanti, tempat ini akan tertelah, terkenal, dengan nama Pantoh” Pantoh itu artinya sama dengan sampyoh yaitu mati bareng. Atas karena lidah jawa, maka berubahlah menjadi Pancoh.

Sedang di luar rumah sesekali terdengar suara mesin motor melaju di luar, Pak Noto menghunjamkan rokoknya yang sudah tinggal filternya saja itu ke asbak. 

“Coba tanya juga ke Pak Dukuh, pernah sekali waktu pak Dukuh mencari di dalam kitabnya orang-orang tua yang  berisi tentang kampung-kampung di sekitar lereng Merapi, tidak ada yang namanya Pancoh, yang ada hanya Pantoh” pak Noto melanjutkan kembali bincangannya.

“Lalu, mas, suatu waktu pak Dukuh mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat, untuk merembugkan perihal rencana pergantian nama. Di kalangan masyarakat sering beredar pemaknaan atas Pancoh sebagai akronim dari papane wong trocoh, tempatnya orang-orang kasar dan awut-awutan, selain juga dari Pantoh yang berarti mati bareng. Pak Dukuh menawarkan untuk pergantian nama dusun, seperti juga yang dilakukan oleh dusun Ngedak yang berubah menjadi Sukorejo atau Mencon menjadi Bangun Mulyo”

“Tetapi saya tidak setuju. Cuma saya yang tidak setuju. Argumen saya begini, ketika Pancoh diartikan menjadi papane wong trocoh, dan berbicara tentang perilaku. Yang harus dirombak dan diganti bukan nama kampungnya, jangan salahkan kampungnya, tapi manusianya yang perlu dirombak, perilakunya”

Hingga sekarang Ekowisata Pancoh berkembang dan menjadi pilot project desa wisata di Sleman, kesenian-kesenian dari Pancoh menginspirasi banyak dusun lainnya di antero Girikerto, Pancoh yang dulunya dimaknai sebagai papane wong trocoh berubah makna menjadi papan percontohan.


16 Komentar

Chrinstine · Maret 19, 2019 pada 7:17 pm

It is appropriate time to make some plans for the future and it is time to be happy.
I have read this post and if I could I want to suggest you
few interesting things or advice. Perhaps
you can write next articles referring to this article.
I want to read more things about it! Ahaa, its fastidious conversation on the topic of this post at this place at this
webpage, I have read all that, so now me also commenting at this place.
I have been surfing online more than 4 hours today,
yet I never found any interesting article like yours.
It’s pretty worth enough for me. Personally, if all web owners and
bloggers made good content as you did, the web will be a
lot more useful than ever before. http://goodreads.com/

Jim · Maret 22, 2019 pada 4:55 pm

Hello would you mind letting me know which webhost you’re working with?
I’ve loaded your blog in 3 completely different web
browsers and I must say this blog loads a lot faster then most.
Can you recommend a good web hosting provider at a honest price?
Kudos, I appreciate it! I am sure this paragraph has touched all the internet people, its really really fastidious paragraph on building up new blog.
It is the best time to make some plans for the future and it is time
to be happy. I have read this post and if I could I wish to
suggest you some interesting things or advice.

Maybe you could write next articles referring to this
article. I desire to read even more things about
it! http://foxnews.net

Backstreets Of Hickory · Maret 25, 2019 pada 3:38 am

I don’t even know the way I finished up here, however
I assumed this post used to be good. I don’t
understand who you are but certainly you’re going to a well-known blogger for those who are
not already. Cheers! http://Backstreetsofhickory.com

Nicolialia Pizzeria · April 9, 2019 pada 7:04 am

I’m really enjoying the design and layout of your website.
It’s a very easy on the eyes which makes it much more
pleasant for me to come here and visit more often.
Did you hire out a designer to create your theme?
Excellent work! https://Nicolitalia.com/

    Ella Putri · Mei 15, 2019 pada 9:55 am

    Hi! Thankyou. 🙂 We just using hestia theme.

Geraldine · April 11, 2019 pada 4:41 am

Thank you for publishing this awesome article.
I’m a long time reader but I’ve never been compelled
to leave a comment. I subscribed to your blog and shared this on my Twitter.
Thanks again for a great article! https://www.entretienmenager-gtp.com/nettoyage-residentiel

    Ella Putri · Mei 15, 2019 pada 9:53 am

    Hi Geraldine! Thankyou 🙂

먹튀사이트 · April 23, 2019 pada 7:35 am

A motivating discussion is worth comment. There’s no
doubt that that you should publish more about this topic, it may not
be a taboo matter but typically folks don’t discuss these issues.
To the next! Best wishes!! https://www.toto-mt.com

    Ella Putri · Mei 15, 2019 pada 9:52 am

    Hi! Thankyou, we will add some articles soon. 🙂

sushi by 7-11 · April 28, 2019 pada 4:51 am

Have you ever considered about adding a little bit more than just your articles?
I mean, what you say is important and all. However think of if
you added some great visuals or videos to give
your posts more, “pop”! Your content is excellent but with
pics and video clips, this blog could definitely be one of
the greatest in its niche. Excellent blog! http://kadenceorlando.com/

    Ella Putri · Mei 15, 2019 pada 9:50 am

    Hi! Thankyou, we will improve and add some videos soon. 🙂

BocaHickory.com · April 29, 2019 pada 10:36 pm

Everyone loves it when folks come together and share
views. Great site, keep it up! https://bocahickory.com/

UltraScoot · Mei 6, 2019 pada 6:22 am

Hi, I believe your website might be having browser compatibility problems.
When I look at your blog in Safari, it looks fine however, when opening in IE,
it?s got some overlapping issues.
I simply wanted to give you a quick heads up! Other than that, wonderful website! https://ultrascoot.com

    Ella Putri · Mei 15, 2019 pada 9:46 am

    Thankyou, we will fix soon. 🙂

Josée Lemieux · Mei 9, 2019 pada 5:30 pm

Hi would you mind letting me know
which webhost you?re working with? I?ve loaded your blog in 3 different web browsers and
I must say this blog loads a lot quicker then most.
Can you recommend a good internet hosting provider at a
fair price? Thanks, I appreciate it! https://www.josee-lemieux.com

    Ella Putri · Mei 15, 2019 pada 9:43 am

    Hello, we use WordPress. 🙂

Tinggalkan Balasan ke UltraScoot Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1
Hello 👋 can we help you?
Hallo 👋 dapatkah kami membantumu?
Powered by